Stoples ketumbar yang dibeli setahun lalu masih setengah penuh, sementara cengkih yang hanya dipakai untuk semur Lebaran tersimpan di laci dekat kompor. Keadaan seperti ini mudah terjadi di dapur rumahan: rempah dibeli untuk satu resep, lalu terlupakan. Menyimpan bumbu utuh dengan baik dimulai dari keputusan membeli, bukan dari memilih stoples yang cantik. Rempah yang jumlahnya sesuai kebutuhan akan habis sebelum aromanya sempat memudar.
Di dapur Indonesia, kata “bumbu utuh” mencakup dua kelompok yang cara simpannya berbeda. Kelompok pertama adalah rempah kering yang masih berbentuk biji, kulit kayu, atau kuncup, seperti ketumbar, lada, jintan, kayu manis, cengkih, pala, dan kemiri. Kelompok kedua adalah bumbu segar yang dibeli utuh, seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lengkuas, serai, dan cabai. Keduanya dibahas terpisah di bawah karena risiko yang menyertainya juga berbeda.
Belanja dari daftar menu, bukan dari rak toko
Langkah pertama adalah menulis lima sampai delapan masakan yang benar-benar dimasak di rumah dalam sebulan terakhir, lalu mencatat rempah kering apa saja yang dipakai. Opor, soto, gulai, semur, dan kari, misalnya, banyak memakai ketumbar, merica, jintan, kemiri, kayu manis, dan cengkih. Rumah yang lebih sering menumis sayur dan menggoreng lauk mungkin hanya rutin memakai merica dan ketumbar. Daftar ini menunjukkan rempah mana yang layak dibeli dalam jumlah lebih banyak dan mana yang cukup dibeli sedikit ketika resepnya memang akan dimasak.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) mengingatkan bahwa membeli dalam jumlah besar hanya menghemat uang bila semua bahan terpakai sebelum rusak. Prinsip ini berlaku untuk rempah. Sekantong besar kayu manis yang tersimpan lama masih bisa dipakai selama tetap kering, tidak berjamur, dan tidak berserangga, tetapi aromanya belum tentu sama ketika akhirnya dipakai. EPA juga menyebut bahwa belanja dari wadah curah dapat mengurangi sisa, asalkan jumlah yang dibeli sesuai kebutuhan dan bahan disimpan dalam wadah kedap udara berlabel.
Untuk rempah yang jarang dipakai, cari takaran kecil. Di pasar tradisional, rempah curah dapat dibeli per ons bila penjual menyediakannya, dan toko bahan kue juga menjual kemasan kecil. Rempah yang dibeli rutin cukup dimasukkan ke daftar belanja pekanan ketika stoplesnya tinggal seperempat, sehingga pembelian mengikuti pemakaian nyata.
Memeriksa rempah kering sebelum membayar
Rempah kering bukan bahan yang steril. Food and Drug Administration (FDA), pengawas pangan dan obat di Amerika Serikat, menyusun profil risiko patogen dan kotoran pada rempah karena ada bukti yang meragukan efektivitas pengendalian yang berjalan. Studi yang dirangkum FDA dalam profil itu mencakup Salmonella pada kiriman rempah impor ke Amerika Serikat dan kemampuan Salmonella bertahan pada lada hitam bubuk. Konsumen tidak dapat memeriksa bakteri dengan mata, tetapi dapat menolak rempah yang jelas tidak terjaga.
- Pilih rempah yang kering dan tidak lengket. Biji yang lembap atau menggumpal menandakan penyimpanan yang kena air atau udara lembap.
- Periksa adanya jamur, serangga, kotoran hewan, atau benda asing seperti kerikil dan ranting berlebihan. Rempah curah di wadah terbuka perlu diperiksa lebih teliti.
- Cium sedikit bila penjual mengizinkan. Rempah yang masih baru cenderung tercium jelas meski masih utuh; rempah yang hampir tidak berbau mungkin sudah lama tersimpan.
- Untuk rempah kemasan, periksa bahwa kemasannya utuh, tidak berlubang, dan tidak basah, lalu baca keterangan kedaluwarsa serta petunjuk penyimpanannya.
Satu hal kecil tentang kemasan. Aturan tabel gizi yang baru, Peraturan BPOM 10/2026 yang ditetapkan 9 Juni 2026, mengecualikan herba dan rempah-rempah dari kewajiban mencantumkan tabel gizi (Pasal 3 ayat 1). Jadi, lada atau ketumbar kemasan tanpa tabel gizi belum tentu melanggar aturan. Bumbu racikan dan kondimen, seperti bumbu instan atau saus, tidak termasuk daftar pengecualian dalam naskah peraturan yang dibaca pada 27 September 2026, meskipun sebagian penjelasan lama masih menyebutnya. Karena produk yang sudah berizin diberi waktu paling lambat 24 bulan untuk menyesuaikan (Pasal 31), label yang mengikuti aturan lama masih wajar ditemui di rak selama masa itu. Keterangan lain seperti nama produk, nomor izin edar, dan keterangan kedaluwarsa tetap perlu dicari di semua kemasan, dan sembilan keterangan wajib pada label bisa diperiksa dengan urutan yang sama untuk rempah maupun produk lain.
Menakar pembelian menurut seberapa sering dipakai
Pengelompokan di bawah hanya ilustrasi untuk rumah yang memasak hampir setiap hari. Isinya bukan anjuran baku, melainkan cara berpikir yang dapat disesuaikan dengan menu masing-masing.
- Merica butiran dan ketumbar: dipakai hampir setiap minggu untuk tumisan, gorengan, dan sop. Dibeli dalam jumlah yang habis dalam satu sampai dua bulan.
- Kemiri: dipakai untuk opor dan beberapa sambal. Dibeli per resep atau untuk dua kali masak, karena kemiri mengandung minyak dan bisa tengik bila lama tersimpan.
- Jintan, kayu manis, cengkih, pala, dan kapulaga: dipakai untuk kari, gulai, atau semur yang dimasak sesekali. Dibeli dalam takaran kecil, cukup untuk dua atau tiga resep.
- Bunga lawang dan adas: hanya dibeli bila resepnya sudah direncanakan.
Cara menghitungnya dapat dimulai dari resep. Lihat berapa sendok teh rempah yang diminta satu resep, kalikan dengan berapa kali resep itu akan dimasak dalam dua atau tiga bulan, lalu beli sedikit di atas angka tersebut. Timbangan dapur kecil membantu mengubah takaran sendok menjadi gram untuk rempah yang dibeli curah. Hitungan kasar seperti ini sudah cukup; tujuannya bukan ketepatan, melainkan menghindari pembelian satu kantong besar untuk resep yang hanya dimasak sekali.
Dengan pola seperti ini, jumlah stoples di rak tidak bertambah setiap kali mencoba resep baru. Rempah yang terakhir dipakai berbulan-bulan lalu dapat menjadi tanda bahwa pembelian berikutnya tidak perlu diulang.

Bumbu segar utuh: bawang, jahe, kunyit, dan cabai
Bumbu segar diperlakukan sebagai bahan hidup yang masih bernapas, bukan bahan kering. EPA menyebut kentang, bawang, dan bawang putih sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk, kering, gelap, dan berventilasi baik. Keranjang anyaman atau wadah berlubang di rak yang jauh dari kompor dan tidak terkena matahari langsung memenuhi syarat ventilasi itu. Stoples kaca yang ditutup rapat, seperti yang tampak berisi bawang pada gambar kedua, praktis untuk stok beberapa hari di meja kerja, tetapi kurang sesuai sebagai tempat simpan jangka panjang karena udara di dalamnya tidak bergerak.
- Bawang merah dan bawang putih: simpan utuh dengan kulitnya, pisahkan umbi yang lembek, berjamur, atau bertunas panjang agar tidak menular ke umbi lain.
- Jahe, kunyit, dan lengkuas: pilih rimpang yang keras dan tidak keriput. Simpan utuh di tempat sejuk; potong hanya bagian yang akan dipakai.
- Cabai: pisahkan buah yang sudah lembek atau busuk, simpan dalam wadah berlubang di kulkas bila tidak habis dalam beberapa hari, dan cuci menjelang dipakai. Bila terlanjur dicuci, keringkan dulu sebelum disimpan.
- Serai dan daun-daunan seperti salam atau jeruk purut: bungkus longgar dan simpan di laci sayur kulkas. EPA menganjurkan sayuran yang mudah layu disimpan di laci berkelembapan tinggi.
Pemilihan saat membeli ikut menentukan berapa lama bumbu segar bertahan. Bawang merah dan bawang putih yang umbinya padat, kulit luarnya kering, dan tidak ada bintik hitam atau lendir di pangkalnya lebih tahan disimpan daripada umbi yang basah. Jahe dan kunyit yang kulitnya tipis dan mengilap menandakan rimpang yang belum lama dipanen, sedangkan rimpang yang berkerut sudah kehilangan banyak air. Tangkai cabai yang masih hijau segar menandakan cabai belum lama dipetik. Pemeriksaan semacam ini lebih leluasa dilakukan saat berbelanja ke pasar selagi pagi, ketika pilihan di lapak masih banyak.
Jumlah bumbu segar juga perlu disesuaikan dengan frekuensi memasak. Bawang merah dan bawang putih yang utuh dapat dibeli untuk kebutuhan yang lebih panjang bila tempat simpannya sejuk dan berventilasi, sedangkan cabai, serai, dan daun-daunan lebih cepat layu sehingga dibeli dalam jumlah yang habis dalam beberapa hari. Rumah yang jarang memasak lebih diuntungkan dengan membeli sedikit tetapi sering daripada menimbun.
Menyimpan bumbu utuh yang segar punya keuntungan praktis. Selama kulitnya belum dikupas atau rimpangnya belum dipotong, permukaan yang terbuka tetap kecil. Begitu diulek atau dirajang, bumbu berubah menjadi bahan yang jauh lebih mudah rusak dan perlu ditangani seperti masakan.
Rak yang sejuk dan stoples yang pas untuk rempah kering
Food Safety and Inspection Service (FSIS), lembaga di bawah Departemen Pertanian Amerika Serikat, menggolongkan rempah sebagai bahan yang boleh berada di rak dapur tanpa pendingin, sama seperti beras, tepung, gula, dan minyak. Untuk seluruh kelompok ini, FSIS menganjurkan tempat yang sejuk dan kering, dan melarang penyimpanan di atas atau di samping kompor, di bawah bak cuci, atau di tempat lembap yang suhunya mudah berubah. Rak tepat di atas kompor terasa praktis, tetapi panas dan uap masakan naik ke sana setiap hari.
Wadah yang cocok untuk rempah kering memenuhi tiga syarat: tertutup rapat, kering saat diisi, dan berukuran sesuai isi. Stoples besar yang hanya berisi segenggam ketumbar menyisakan banyak udara di dalamnya, dan setiap kali dibuka udara lembap dapur ikut masuk. Toples kecil atau kantong klip yang dikempiskan lebih pas untuk rempah yang jarang dipakai.
Stoples kaca bening di rak terbuka memudahkan melihat isi, seperti tampak pada ilustrasi pembuka, tetapi menerima cahaya sepanjang hari bila raknya dekat jendela. Pilihannya ada dua: pindahkan rak ke bagian dapur yang teduh, atau gunakan wadah tidak tembus cahaya untuk rempah yang jarang dipakai dan simpan hanya stok kecil dalam stoples bening. Rempah juga lebih mudah ditemukan bila dikelompokkan menurut jenis masakan, misalnya satu kotak untuk rempah kari dan gulai. Kotak seperti ini bisa mendapat tempat tetap di rak, sama seperti kelompok bahan kering lain ketika lemari sempit dibagi menurut jenis pemakaian.
Bahan wadah tidak sepenting kerapatan tutupnya, tetapi masing-masing punya sifat yang perlu dipertimbangkan.
- Kaca: tidak menyerap bau dan mudah dilihat isinya. Kekurangannya, kaca bening meneruskan cahaya, sehingga lebih cocok diletakkan di lemari tertutup.
- Plastik tebal bertutup rapat: ringan dan murah. Plastik dapat menyerap bau rempah yang kuat seperti cengkih dan jintan, jadi satu wadah sebaiknya dipakai untuk satu jenis rempah saja.
- Kaleng atau wadah logam bertutup: melindungi dari cahaya. Pastikan bagian dalamnya kering dan tidak berkarat sebelum diisi.
- Kantong klip: hemat tempat untuk rempah yang jarang dipakai. Keluarkan udara sebelum ditutup dan simpan kantong-kantong itu bersama dalam satu kotak agar tidak tercecer.
Rempah curah dari pasar sebaiknya langsung dipindahkan dari kantong plastik tipis ke wadah tetap begitu tiba di rumah. Pada saat yang sama, tulis nama dan bulan pembelian. Beberapa rempah yang bentuknya mirip, seperti jintan dan adas atau merica putih dan ketumbar yang sudah pecah, mudah tertukar bila tidak berlabel.
Sendok yang dipakai mengambil rempah harus kering. Jangan menuang atau menaburkan rempah langsung dari stoples di atas panci yang sedang mengepul, karena uapnya masuk ke dalam wadah. Ambil secukupnya dengan sendok kering, letakkan di piring kecil, lalu masukkan ke masakan.
Jarak rak, suhu lemari, dan tanggal pada stoples
Angka yang lebih konkret tersedia dalam lampiran Permenkes 2/2023. Bagian tentang penyimpanan bahan pangan di sana ditulis bagi restoran, rumah makan, dan jasa boga, tetapi beberapa ketentuannya mudah diterjemahkan ke lemari rempah rumahan (hlm. 59–60).
- Bahan yang berbau tajam ditutup rapat agar baunya tidak keluar, dan tidak terkena sinar matahari langsung. Cengkih, jintan, pala, dan kapulaga termasuk kelompok ini, sehingga stoples bertutup ulir atau berkaret lebih cocok daripada toples dengan tutup yang hanya ditekan.
- Gudang bahan kering dan kaleng dijaga di bawah 25 °C. Dapur rumah di Indonesia sering lebih hangat dari itu pada siang hari, jadi pilih titik yang paling sejuk: lemari bawah di dinding yang tidak terkena matahari sore, tidak menempel pada sisi belakang kulkas yang terasa hangat, dan tidak berada di samping penanak nasi.
- Rak terbawah berjarak kurang lebih 15 cm dari lantai, 5 cm dari dinding, dan 60 cm dari langit-langit. Di rumah, jarak dari lantai memudahkan mengepel, sedangkan celah dari dinding mencegah wadah menempel pada tembok yang lembap.
- Bahan dalam karung, seperti beras dan biji-bijian, tidak diletakkan langsung di lantai. Kantong rempah curah dan jaring bawang dari pasar diperlakukan sama: taruh di rak atau alas, bukan di ubin.
- Bahan yang tidak langsung dipakai diberi label tanggal penerimaan, lalu dipakai dengan urutan FIFO, atau yang kedaluwarsanya lebih dekat dipakai lebih dulu.
Label yang cukup berisi dua baris, misalnya “Ketumbar utuh” dan “beli Agustus 2026”. Bila rempah dipindahkan dari kemasan pabrik, gunting bagian kemasan yang memuat tanggal kedaluwarsa dan selipkan di dalam atau tempelkan di sisi stoples.
Termometer ruang kecil yang diletakkan di dalam lemari selama beberapa hari dapat menunjukkan apakah rak pilihan memang lebih sejuk daripada rak lain. Bila semua sudut dapur panas, kurangi stok rempah yang jarang dipakai dan beli lebih sering dalam jumlah kecil, karena wadah kedap udara tidak menurunkan suhu di dalamnya.
Menggiling dan menyangrai sesuai kebutuhan
Alasan orang memilih rempah utuh adalah aroma yang lebih terjaga sampai saat digiling. Karena itu, giling atau ulek hanya jumlah yang dibutuhkan untuk satu atau dua kali masak. Rempah bubuk hasil gilingan sendiri tidak memiliki kemasan pelindung seperti produk pabrik, jadi simpan sisanya dalam wadah kecil tertutup dan pakai dalam waktu dekat.
Menyangrai memperkuat aroma beberapa rempah seperti ketumbar dan jintan, tetapi tidak wajib untuk setiap resep. Bila resep memintanya, sangrai di wajan kering dengan api kecil sambil terus diaduk sampai harum, lalu pindahkan segera ke piring agar tidak gosong oleh panas wajan. Tunggu dingin sebelum digiling atau disimpan, supaya uap tidak mengembun di dalam wadah.
Cobek dan ulekan yang dipakai untuk rempah kering dan bumbu basah bergantian perlu dicuci dan dikeringkan di antara pemakaian. Sisa bumbu basah yang menempel di pori-pori batu dapat berjamur bila cobek disimpan lembap. Jarak antara cobek, stoples rempah, dan talenan juga menentukan seberapa cepat bumbu siap. Ketiganya lebih praktis bila berkumpul di area menyiapkan bahan di dekat kompor, asalkan stoples tetap di luar jangkauan uapnya.
Bumbu halus dan bawang dalam minyak butuh aturan lain
Begitu bawang, cabai, jahe, dan rempah diulek menjadi bumbu halus, ia bukan lagi bumbu utuh yang tahan di suhu ruang. Bumbu halus yang tidak langsung dimasak disimpan tertutup di kulkas dan dipakai dalam beberapa hari, atau dibagi ke porsi kecil lalu dibekukan. Bumbu dasar yang sudah ditumis sampai matang pun termasuk masakan. Aturan higiene Kemenkes yang tadi dipakai untuk jarak rak memberi makanan matang yang mudah rusak batas 4 jam di suhu ruang; bumbu tumis yang akan disimpan sebaiknya dibagi ke wadah kecil dan masuk kulkas jauh sebelum batas itu, begitu uap panasnya hilang.
Perhatian khusus diperlukan untuk bawang putih atau rempah yang direndam minyak. FoodSafety.gov, laman keamanan pangan pemerintah Amerika Serikat, mencantumkan minyak yang diberi herba dan bawang putih dalam botol sebagai contoh sumber botulisme, bersama makanan kalengan atau awetan rumahan yang tidak diproses dengan benar. Lingkungan di bawah minyak miskin udara, dan menurut penjelasan FSIS tentang pengalengan, bakteri penyebab botulisme tumbuh paling baik dalam kondisi tanpa oksigen.
Konsekuensinya bagi dapur rumah cukup jelas. Minyak bawang putih buatan sendiri, bawang putih cincang yang direndam minyak, atau sambal berminyak yang dibuat dalam jumlah besar jangan dibiarkan berhari-hari di suhu ruang. Buat dalam jumlah kecil, simpan di kulkas, dan habiskan dalam waktu singkat. Untuk produk kemasan, ikuti petunjuk simpan setelah dibuka yang tercantum pada label. Bawang goreng yang kering renyah berbeda perlakuannya karena tidak terendam minyak, tetapi tetap perlu wadah tertutup rapat agar tidak melempem.
Ketika bumbu segar mulai menurun
Bumbu segar yang mulai kehilangan mutu tidak selalu harus dibuang, asalkan belum busuk atau berjamur. Yang diperlukan adalah memindahkannya ke antrean paling depan dan memilih cara pakai yang sesuai.
- Bawang yang mulai bertunas: pakai lebih dulu untuk masakan hari itu. Buang bagian yang lembek. Umbi yang berjamur atau berlendir tidak dipakai.
- Jahe yang mulai keriput: masih cocok untuk minuman jahe atau kuah yang direbus lama, karena teksturnya tidak lagi penting.
- Cabai yang berlebih: dapat dibekukan utuh atau diulek menjadi sambal dasar lalu dibagi porsi kecil. FSIS menjelaskan bahwa hampir semua makanan dapat dibekukan, dengan catatan mutu setelah dicairkan tidak selalu sama.
- Serai dan lengkuas: dapat dipotong-potong lalu dibekukan dalam kantong kecil untuk masakan berkuah.
Bumbu yang dibekukan sebaiknya diberi nama dan tanggal, lalu diletakkan di satu wadah khusus di freezer agar mudah ditemukan saat memasak. Bumbu beku bisa ikut dicatat di lembar isi freezer bersama daging dan kaldu, lengkap dengan tanggal bekunya. Bumbu halus beku boleh langsung masuk wajan tanpa dicairkan, asalkan ditumis sampai matang.
Pemeriksaan aroma setiap beberapa bulan
Pekerjaan menyimpan bumbu utuh tidak selesai ketika tutup stoples dirapatkan. Mutu rempah kering tetap menurun seiring waktu, meskipun wadahnya tertutup dan tempatnya sesuai. Cara memeriksanya sederhana dan tidak memerlukan alat.
- Tempelkan label kecil berisi nama rempah dan bulan pembelian pada setiap wadah. Ini membantu menilai berapa lama stok benar-benar bertahan di rumah.
- Setiap tiga bulan, atau saat membersihkan lemari, ambil sedikit rempah, remas atau patahkan, lalu cium. Bandingkan dengan ingatan saat baru dibeli.
- Rempah yang aromanya lemah dapat dipakai dengan takaran sedikit lebih banyak untuk masakan berkuah, atau diganti saat pembelian berikutnya.
- Buang rempah yang berjamur, berserangga, menggumpal karena lembap, atau berbau apak dan tengik. Kemiri dan biji berminyak lainnya perlu diperiksa lebih teliti untuk bau tengik.
- Catat rempah yang ternyata tidak terpakai sama sekali sejak pembelian terakhir, lalu coret dari daftar belanja rutin.
Pemeriksaan ini juga menjadi kesempatan membersihkan rak. Lap kering sudah cukup untuk debu; bila memakai lap basah, pastikan rak benar-benar kering sebelum wadah dikembalikan.
Kesalahan kecil yang mengurangi umur rempah
Beberapa kebiasaan terlihat sepele tetapi mempercepat turunnya mutu rempah kering. Mengenalinya membantu memutuskan mana yang perlu diubah lebih dulu.
- Mencampur rempah baru ke sisa lama dalam satu wadah. Sisa lama sebaiknya dipakai lebih dulu, lalu wadah dicuci dan dikeringkan sebelum diisi ulang.
- Menyimpan rempah di dalam kulkas lalu mengeluarkannya berkali-kali. Perbedaan suhu dapat membuat embun di dalam wadah. Rempah kering cukup disimpan di tempat sejuk dan kering, sesuai anjuran FSIS.
- Menyimpan rempah di dekat bahan berbau tajam atau cairan pembersih. Ketentuan Kemenkes bagi restoran dan rumah makan meminta bahan kimia pembersih diberi label dan disimpan terpisah dari tempat penyimpanan bahan pangan.
- Membiarkan kantong plastik dari pasar terbuka di dalam laci. Kantong yang tidak tertutup rapat mengundang serangga dan lembap.
- Memakai ulang stoples bekas selai atau sambal tanpa mencucinya sampai bersih dan kering. Sisa minyak atau gula di dinding wadah dapat menjadi tempat jamur tumbuh dan meninggalkan bau pada rempah.
- Mengisi wadah sampai penuh padat lalu menekannya. Rempah utuh yang tertekan mudah pecah, dan bagian yang pecah lebih cepat kehilangan aroma.
Kulkas, umur rempah, dan bawang dalam minyak
Apakah rempah kering perlu disimpan di kulkas?
Tidak perlu. Rempah termasuk bahan yang menurut FSIS boleh disimpan di luar kulkas, asalkan tempatnya sejuk, kering, dan jauh dari kompor. Kulkas justru dapat membuat embun bila wadah sering dikeluarkan dan dibuka dalam keadaan dingin.
Adakah patokan umur untuk rempah utuh di lemari?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua rempah, karena mutu dipengaruhi jenis, kondisi saat dibeli, dan cara simpan. Label bulan pembelian dan pemeriksaan aroma setiap beberapa bulan lebih dapat diandalkan daripada patokan umum. Untuk produk kemasan, ikuti keterangan kedaluwarsa pada label. Rempah yang lembap, berjamur, berserangga, atau berbau tengik tidak dipakai, berapa pun umurnya.
Bolehkah bawang putih disimpan dalam minyak di suhu ruang?
Sebaiknya tidak. FoodSafety.gov mencantumkan bawang putih dalam botol dan minyak yang diberi herba sebagai contoh sumber botulisme. Buat dalam jumlah kecil, simpan di kulkas, dan habiskan dalam waktu singkat, atau ikuti petunjuk simpan pada label produk kemasan.
Apakah rempah bubuk kemasan sama baiknya dengan rempah utuh?
Rempah bubuk kemasan praktis dan cocok untuk rumah yang jarang memasak masakan berempah. Kekurangannya, permukaan bubuk jauh lebih luas sehingga aroma lebih cepat berkurang setelah kemasan dibuka. Beli ukuran kecil dan tutup rapat setiap selesai dipakai. Kedua cara juga dapat dipadukan: rempah yang dipakai hampir setiap hari dibeli utuh lalu digiling sedikit demi sedikit, sedangkan rempah yang jarang dipakai dibeli dalam bentuk bubuk kemasan kecil.
Rujukan penyimpanan dan keamanan
- Shelf-Stable Food Safety, Food Safety and Inspection Service, Departemen Pertanian Amerika Serikat. Rempah termasuk pangan simpan suhu ruang; larangan menyimpan di atas atau di samping kompor, di bawah bak cuci, dan di tempat lembap. Diakses 27 September 2026.
- Risk Profile: Pathogen and Filth in Spices, U.S. Food and Drug Administration, Amerika Serikat. Latar belakang profil risiko dan daftar studi Salmonella pada rempah. Diakses 27 September 2026.
- Bacteria and Viruses, FoodSafety.gov, Amerika Serikat. Baris botulisme yang menyebut minyak berisi herba dan bawang putih dalam botol. Diakses 27 September 2026.
- Preventing Wasted Food at Home, U.S. Environmental Protection Agency, Amerika Serikat. Pembelian curah, wadah kedap udara berlabel, dan penyimpanan bawang di tempat sejuk, kering, gelap, serta berventilasi. Diakses 27 September 2026.
- Freezing and Food Safety, Food Safety and Inspection Service, Amerika Serikat. Hampir semua makanan dapat dibekukan, dengan mutu setelah dicairkan yang dapat berbeda. Diakses 27 September 2026.
- Peraturan BPOM Nomor 10 Tahun 2026 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Indonesia (JDIH BPOM). Ditetapkan 9 Juni 2026 dan diundangkan 17 Juni 2026 menurut laman JDIH. Pasal 3 ayat (1) tentang produk yang dikecualikan dari tabel gizi (hlm. 4) dan Pasal 31 tentang masa penyesuaian 24 bulan (hlm. 12–13). Diakses 27 September 2026.
- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI, Indonesia (JDIH BPK). Lampiran, bagian Media Pangan: bahan kimia pembersih diberi label dan disimpan terpisah (hlm. 57), label tanggal penerimaan dan bahan berbau tajam (hlm. 59), suhu gudang bahan kering di bawah 25 °C, jarak rak 15 cm, 5 cm, dan 60 cm, karung tidak di lantai, serta FIFO dan FEFO (hlm. 60), batas 4 jam pangan matang pada suhu ruang (hlm. 62). Diakses 28 September 2026.